Review Buku

Review Lengkap Buku Filosofi Teras

Di pertengahan tahun 2017, Henry Manampiring pemilik akun @newsplatter, praktisi periklanan yang juga merupakan penulis buku Filosofi Teras, mendatangi psikiater, ia memang dikenal oleh teman – temannya sebagai pribadi yang negative thinking.

Saat dihadapkan pada sebuah kenyataan, ia cenderung berpikir buruknya dahulu. Di pertengahan tahun itu, pikiran buruk, cemas, dan rasa tidak bersemangat kian terasa menekan.

Ia lalu memutuskan untuk mencari bantuan. Ia mendatangi psikiater. Hasil diagnosisnya, “Kamu menderita Major Depressive Disorder.”

Ia pun menulis buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini (Penerbit Buku Kompas, 2019). Ia meng-Indonesia-kan stoisisme jadi filosofi teras agar lebih akrab dengan lidah Indonesia.

Muasalnya sendiri, di Athena masa Yunani kuno 300 tahun sebelum Masehi atau 2300 tahun yang lalu, Zeno, pelopor filsafat stoa, kerap mengajar filosofinya di teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut “stoa”. Jadilah versi Indonesia-nya, filosofi teras.

Well, filsafat stoa tak semata menganjurkan hidup sederhana ataupun menerima nasib. Tidak pula serba abstrak dan tidak praktis. Perbedaan mendasar filsafat stoa dengan cabang filsafat lain justru pada sifat praktisnya.

Stoa tak mengangankan masyarakat utopis tanpa kelas sebagaimana dianjurkan Marxisme. Yang dianjurkan stoa lebih personal:

“Hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete) atau hidup bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.”

Stoisisme alias filosofi teras kian terasa relevan untuk masyarakat masa kini. Di Yunani kuno, ia lahir di masa peperangan dan krisis.

Meski kita tak sedang terlibat perang fisik dengan bangsa mana pun, banyak dari kita sedang “berperang” di media sosial. Berdebat, saling beda pendapat, menyebar hoax dan fake news, bahkan mem-bully sudah jadi kerjaan sehari-hari.

Tidak hanya itu, beban hidup pun terasa kian berat kini. Kita dilanda stres di jalan akibat macet, di kantor beban pekerjaan yang menumpuk, belum lagi harus menghadapi bos dan politik kantor.

Pulang kerja bertemu lagi jalanan yang macet. Istirahat kurang. Quality time dengan keluarga juga kurang. Belum lagi harus menghadapi persoalan ekonomi akibat segala harga kebutuhan pokok naik, sementara gaji tak ikut naik.

Bagi yang berstatus mahasiswa maupun pelajar keadaannya tak lebih baik. Tekanan orangtua untuk mengejar nilai, stres saat mengerjakan sksripsi sampai persoalan pribadi dengan pacar atau teman.

Itu semua persoalan di dunia nyata. Di dunia maya pun masalahnya tak kalah pelik. Menengok medsos teman yang isinya traveling melulu, makan enak di kafe dan restoran juga dapat memicu depresi. Merasa hidup tak bahagia dibandingkan orang lain.

Nah, filosofi teras memberi solusi pada semua permasalahan itu. Epictetus, salah satu pelopor stoisisme zaman kuno berkata begini,

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.”

Maksudnya, bila kita fokus pada apa-apa saja yang dapat kita kendalikan, maka kita akan merasa bahagia. Sedangkan ketakbahagiaan justru berasal dari hal-hal  yang kita rasa bisa (di bawah kendali) kita, padahal bukan.

Di buku ini didedahkan apa-apa saja yang berada di bawah kendali kita dan yang tidak. Yang sudah jelas TIDAK di bawah kendali kita misalnya, kondisi kita lahir, jenis kelamin, etnis, orangtua. Juga cuaca, bencana alam dan peristiwa alam lainnya.

Lalu, ada pula yang kita pikir di bawah kendali kita, ternyata bukan. Misalnya, pandangan orang lain tidak berada di bawah kendali kita (kecuali orang itu di bawah ancaman kita).

Reputasi, kekayaan, serta kesehatan juga tak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Kita bisa berusaha untuk hidup sehat atau menjadi kaya raya. Namun, tak ada apapun yang bisa menjamin kita selamanya bisa sehat dan kaya.

Yang bisa kita kendalikan adalah pertimbangan (judgment), opini kita, keinginan kita, tujuan kita, serta segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Bagi filsuf stoa, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan tidak rasional.

Contoh kecilnya, bila terjebak di jalanan macet, marah-marah tak ada gunanya. Karena marah tak membuat kita bisa keluar dari kemacetan. Sebelum kenal stoa, Henry kesal dan marah setiap bertemu macet.

Tapi kini di tengah kemacetan ia bisa mengisi waktu membaca e-book atau sedikit membereskan pekerjaan kantor.